Aku sakit, terjebak ditengah rutinitas dan kesalahan yg telah kuperbuat. Bukan maksud hatiku untuk lari dari kenyataan, hanya saja aku tidak siap menerima akibat yang kurasa fatal didepanku. Akhirnya aku harus memutuskan untuk melepaskan dan kehilangan orang yg paling kusayangi. Pedih, dan hancur... Namun kusadari betul konsekuensi dari ini semua. Entah aku merasa telah cukup berbuat banyak selama ini.
Semua hal yang terjadi dalam hidupku ternyata mempunyai makna serta maksud tertentu, walau pada hal terburuk sekalipun. Kini aku harus bisa merelakan tiap detik dari masa-masa indah yang telah kulewati. Bukan demi diriku, melainkan demi dia yang kusayangi. Seperti lilin yang mengorbankan diri agar terang tetap ada, begitupula diriku. Ada saat aku harus "pergi" setelah semua waktu telah "usai".
Sungguh aku tidak tahu apa yg kan terjadi dihadapanku nanti. Yang kutahu betapa aku sangat mencintai dia yang telah kudampingi selama satu tahun. Sekian waktu kala kami sama-sama berusaha bangkit dari keterpurukan masa lalu. Bahkan hingga kini kurasa putus asa, aku menyadari tak seorangpun kan memahami diriku. Maka biarlah kuhadapi semuanya seorang diri...walau aku harus mati sekalipun...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar